Melihat potensi berbisnis Sabut Kelapa

Tulisan saya saat ini adalah untuk memenuhi permintaan teman-teman maupun rekan-rekan yang menanyakan perihal ber-bisnis mandiri sabut kelapa. Diantaranya banyak pula yang ingin sampai dapat mem-produksi atau membangun pabrik pengelolaan sabut kelapa, akan tetapi untuk tulisan saat ini baru membahas ruang lingkup dalam melihat potensi bahan baku yang merupakan pilar sangat penting dari bisnis mandiri sabut kelapa.

Saya sangat bersyukur karena saat ini sudah semakin banyak teman-teman yang berencana bahkan sudah memulai menjadi entrepreneur bisnis mandiri yang insyaAllah bisa membangun umat dari ketertinggalan seperti saat ini.

Sabut kelapa merupakan salah satu usaha memanfaatkan sampah buangan produksi kelapa berupa “tepes atau sepet” yang terdapat di sekitar kita. Akan tetapi potensi ini belum tentu ada di lingkungan yang memiliki banyak sekali pohon kelapa, hal ini karena apabila kelapa-kelapa tersebut tidak dikupas, maka potensi tepes/sepet tersebut menjadi “belum ada”.

Memang saat ini saya sedang mencoba membuat pabrik kelapa terpadu di Lampung, dimana sabut kelapa merupakan bahagian kecil dari hasil produksi pabrik kelapa terpadu itu. Akan tetapi hal ini sedang dalam tahap permulaan, yang belum bisa disarankan kepada teman-teman bisnis mandiri karena saya sendiri belum mencobanya sampai tuntas.

Untuk melihat potensi bahan baku tepes/sepet diawal perencanaan pembuatan pabrik pengelola sabut kelapa, kita harus mengumpulkan informasi sebagai berikut:
Sebagai gambaran, untuk mendapatkan jumlah produksi sabut kelapa sebanyak 10 Container High Cube 40 feet setiap bulannya, diperlukan supplai tepes/sepet ke pabrik kita sebanyak 60 ribu tepes/sepet per-hari. Apabila di konversikan ke jumlah truk dgn volume bak 12 meter kubik, maka dibutuhkan 20 truk per-hari yang setara 240 meter kubik per-hari..

Ada komentar, “nah lho, bagaimana untuk mendapatkan tepes/sepet sebanyak itu?”.
Jawabannya adalah kita harus berkerjasama dengan pengupas-pengupas kelapa, yang biasanya disebut “Bandar Kelapa”. Mereka inilah yang biasa mensuplai kebutuhan kelapa untuk di-parut buat santan di kota-kota besar. Biasanya setiap bandar kelapa mengupas setiap harinya 5 ribu kelapa, maka jumlah tepes/sepet hasil kupasannya menjadi 5 ribu tepes/sepet pula.

Nah, apabila sudah memahami hal tersebut maka yang kita perlukan untuk memenuhi salah satu pilar terpenting dari bisnis sabut kelapa yaitu “pilar suplai”, maka kita harus bekerjasama dengan 12 bandar kelapa sehingga kebutuhan bahan baku 60 ribu tepes/sepet per-hari (atau 240 meter kubik per-hari) dapat terpenuhi.

InsyaAllah setelah menemukan potensi tersebut disekitar anda, maka anda sudah bisa merencanakan untuk membuat bisnis mandiri pengelolaan sabut kelapa dan kita bisa sharing bersama untuk dapat mewujudkan bisnis mandiri tersebut.

Pembahasan berikutnya dalam sharing belajar bersama ber-bisnis mandiri sabut kelapa adalah merencanakan membangun 3 pilar bisnis yang lain, yaitu: pilar “support”, pilar “demand” dan pilar “team business”.

Semoga dengan kebersamaan kita dapat selalu meraih keberkahan dari ALLAH SWT. Amin YRA.

http://eksportir-indonesia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s