Bisnis Mandiri adalah Job Security untuk kita semua

Ketika baru tamat sekolah, rata-rata kita dan orangtua kita sangat berbahagia bila kita langsung dapat bekerja di perusahaan atau institusi ternama. (Calon) Mertua kitapun merelakan anaknya kita nikahi, karena rata-rata (calon) mertua merasa nyaman bila sang (calon) menantu sudah bekerja. Sebaliknya orangtua maupun (calon) mertua rata-rata tidak merasa nyaman bila kita tidak berusaha mencari ‘kerja’ melainkan belajar usaha sendiri misalnya. Fenomena ini terjadi karena ilusi kemapanan yang tercipta oleh pemahaman yang tidak sepenuhnya benar tentang keamanan pekerjaan atau “job security”.

Pemahaman umum bahwa perusahaan besar atau institusi ternama lebih mampu memberikan “job security”, tidak sepenuhnya atau selamanya benar. Tahukah anda bahwa bila karir anda menanjak dengan cepat, ini juga bisa berakibat anda kehilangan pekerjaan dengan cepat? Kok bisa?

Ambil contohnya adalah bila anda seorang karyawan, kemungkinan besarnya anda ingin secepatnya naik pangkat dan menjadi direksi. Justru ketika anda mencapai cita-cita anda menjadi direksi, saat inilah anda kehilangan “job security” yang diidamkan oleh orang tua dan mertua tersebut di atas. Rata-rata direksi bekerja dengan kontrak 3 s/d 5 tahun per periodenya, mereka bisa menjabat rata-rata sampai dua periode. Maka ketika seorang karyawan mencapai posisi direksi, dia harus siap kehilangan pekerjaannya dalam rentang waktu 6 s/d 10 tahun lagi paling lama.

Kalau begitu apakah berarti enakan jadi karyawan biasa saja sampai pensiun? Tidak juga demikian, meskipun realitanya sebagian terbesar karyawan akan tetap menjadi karyawan sampai pensiun, karyawan-karyawan cemerlang di setiap perusahaan atau institusi pasti bercita-cita ingin mencapai puncak karir di perusahaan atau institusinya. Disinilah letak paradox-nya, justru ketika dia benar-benar mencapai karir puncaknya, bisa jadi saat itu pula dia kehilangan “job security”-nya.

Lantas bagaimana kita bisa menciptakan “job security” yang sesungguhnya, yang bisa kita nikmati sampai usia pensiun sekalipun? “Job security” ini justru ada di bidang usaha yang selama ini dipersepsikan paling tidak aman, yaitu pengusaha atau lebih spesifiknya pedagang. Kok bisa?

Bila anda bisa berdagang, anda tidak perlu khawatir dengan pekerjaan anda. Di jaman Rasulullah SAW, percaya diri-nya pedagang ini terwakili oleh kisah Abdur Rahman Ibn ‘Auf di bawah ini:
Telah bercerita kepada kami (Isma’il ibn Abdullah) berkata, telah bercerita kepadaku (Ibrahim ibn Sa’ad) dari (bapaknya) dari (kakeknya) berkata; Ketika mereka (kaum Muhajirin) telah tiba di Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan ‘Abdur Rahman ibn ‘Auf dengan Sa’ad ibn al-Rabi’. Sa’ad berkata kepada ‘Abdur Rahman,”aku adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya, maka hartaku aku akan bagi dua dan aku mempunyai dua istri, maka lihatlah mana di antara keduanya yang menarik hatimu dan sebut kepadaku, nanti aku akan ceraikan dan apabila telah selesai masa iddahnya silahkan kamu menikahinya”. ‘Abdur Rahman berkata,”Semoga ALLAH memberkatimu pada keluarga dan hartamu. Dimanakah letak pasar-pasar kalian?”. Maka mereka menunjukkan pasar Bani Qainuqa’. Dia tidak kembali dari pasar melainkan dengan membawa keju dan minyak samin yang banyak. Lalu dia terus berdagang hingga pada suatu hari dia datang dengan mengenakan pakaian dan wewangian yang bagus. Nabi SAW bertanya kepadanya,”Bagaimana keadaanmu?”. ‘Abdur Rahman menjawab,”Sebiji emas atau seberat biji emas”. Dalam hal ini Ibrahim ragu jumlahnya yang pasti. (HR Bukhari).

Abdur Rahman ibn ‘Auf tidak tertarik dengan harta halal yang ditawarkan saudaranya, karena dia “percaya diri” bisa mencarinya sendiri dengan cukup melalui perdagangan. Abdur Rahman ibn ‘Auf kemudian tercatat dalam sejarah islam menjadi orang yang sangat kaya di negeri yang baru Madinah sampai akhir hayatnya. Meskipun ketika dia berhijrah, dia tidak membawa hartanya yang dia tinggal di Mekkah.

Bukan hanya kaya raya, dia juga termasuk salah satu sahabat yang dijamin masuk surga. Artinya perdagangan yang dia lakukan sampai membuatnya kaya, tidak melanggar sedikitpun ketentuan syariat agama ini. Sebab bila ada sedikit saja yang dia langgar, kemungkinannya dia tidak bisa dijamin masuk surga.

Belajar ber-bisnis mandiri (berdagang) seperti yang dilakukan oleh Abdur Rahman ibn ‘Auf tersebutlah yang perlu kita lakukan untuk memperoleh “job security” yang sesungguhnya. Yang perlu kita ketahui hanyalah di mana ada pasar, kemudian melihat apa-apa yang dibutuhkan orang di pasar. Bila kita bisa selalu memenuhi kebutuhan orang di pasar tersebut, itulah bisnis mandiri dan “job security” kita.

Wa Allahu A’lam

Ayo kita mem-bangun bisnis mandiri http://kantor-di-rumah.com menuju bisnis mancanegara http://eksportir-indonesia.com

Note: Bila Anda ingin sharing belajar bersama bisnis mandiri, insyaAllah Anda bisa bergabung di “Bale Inspirasi” dengan mengirimkan CV Anda ke nrachmanbiz@gmail.com. Pertemuan regular dijawalkan akan mulai dilaksanakan di buan Desember 2012 ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s