Pelajari Hukum Sebab-Akibat untuk menjadi Pemenang

Bagi negara-negara penghasil produk pangan dunia, Indonesia adalah primadona untuk negara tujuan ekspor mereka.  Betapa tidak, negara dengan penduduk no 4 terbesar di dunia ini – ternyata kurang pandai memenuh kebutuhannya sendiri. Indonesia pernah tercatat sebagai Negara pengimpor beras terbesar di dunia (2003/2004) dengan total impor mencapai 3.5 juta ton atau 18.6 % dari total impor beras dunia. Oleh Index Mundi, tahun ini Indonesia juga ditargetkan menjadi negara tujuan ekspor no 1 di dunia untuk susu bubuk – yang oleh mereka diperkirakan kita akan mengimpor 230,000 ton. Posisi ‘JUARA’ impor ini di duduki Indonesia di banyak kategori lainnya, meskipun tidak di nomor 1.
Gandum misalnya, negara yang penduduknya semula tidak makan gandum  ini kini menjadi pengimpor gandum no 4 di dunia dengan impor sekitar 4.1 juta tahun pertahun. Untuk makanan tradisional dari kedelai-pun Indonesia menjadi pengimpor no 3 terbesar di dunia dengan impor sekitar 2.6 juta kedelai setahun. Untuk kebutuhan pokok lainnya yaitu sandang, Indonesia juga merupakan pengimpor kapas no 4 terbesar di dunia.
Bukan hanya pada kebutuhan-kebutuhan  pokok tersebut Indonesia menjadi target empuk bagi para pemasar dunia, tetapi juga untuk kebutuhan lain yang semula tidak mutlak perlu seperti telepon seluler. Saat ini diperkirakan rata-rata 3 dari empat penduduk Indonesia memiliki telepon seluler – yang berarti sekitar  180-an juta pengguna. Pada posisi ini, Indonesia menduduki rangking ke 6 pengguna telepon seluler dunia setelah China, India, USA, Russia dan Brasil. Tidak ada salahnya sebenarnya ‘pencapaian’ ini bila seandainya handset-nya tidak hampir seluruhnya produk impor.
Lebih dari impor handset dan infrastruktur penunjangnya yang besar, yang juga sangat besar lagi ‘uang mengalir keluar’ dari segenap lapisan masyarakat negeri ini adalah lewat pulsa dan abonemen telepon seluler yang kita bayar – yang seolah sudah ikut-ikutan menjadi ‘kebutuhan pokok’ bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang bulu. Kita tahu bahwa 3 operator terbesar telepon seluler menguasai lebih dari 90 % pasar, dan melalui tiga operator ini saja kepemilikan asing begitu besarnya sehingga mereka ikut menikmati keuntungan yang sangat besar pula dari pulsa-pulsa yang Anda dan saya bayar setiap hari.
Telkomsel sebagai pemegang pangsa terbesar untuk telepon seluler di Indonesia, 35% sahamnya milik SingTel dan 65 % milik Telkom – di Telkom-nya sendiri pemerintah kita menguasai sekitar 52.47% saham – 47.53 %  adalah milik publik, namun dari saham publik ini bagian terbesarnya adalah investor asing (45% lebih) sisanya dalam jumlah yang kecil ( sekitar 3 %) adalah investor di dalam negeri.
Indosat sebagai operator seluler nomor 2 terbesar, lebih dari 70% sahamnya dimiliki asing, yaitu 65% QTel dan 5.38% Skagen. Demikian juga XL di urutan ke 3 malah sekitar 80%-nya asing (posisi April 2011),  yaitu 66.7 % XL –Axiata (Malaysia) dan 13.3 % Emirates Tel.Co. (Etisalat).
Dengan ilustrasi tersebut diatas maka sejak bangun tidur kita sarapan mie dari terigu impor, nelepon teman dengan telepon impor, sms dlsb membayar pulsa yang sebagian besar uangnya juga lari keluar, siang hari makan dengan tempe goreng dari kedelai impor, sore hari sambil pulang kerja mampir beli tahu goreng dipinggir jalan yang kedelainya sekitar 80% impor, sampai malam hari menjelang tidur minum susu bareng anak-anak – juga susu impor. Bahkan untuk melawan dinginnya malam, tidur-pun masih berselimutkan selimut dari kapas yang 99.5%-nya impor.
Dalam dunia pemasaran global, bila kita lebih banyak impor dari yang bisa kita ekspor – maka kita menjadi bangsa yang ‘kalah’. Itulah sebabnya negeri seperti Amerika Serikat berjuang habis-habisan untuk sekedar bisa memperbaiki posisinya yang kini juga kalah telak dengan negeri lain khususnya China. Lantas apa perjuangan yang kita lakukan untuk bisa menang dari situasi yang kini kita hadapi tersebut diatas ?.
Di tengah kesibukannya mengurus panggung politik dan partainya masing-masing yang penuh hingar bingar apalagi dalam beberapa tahun mendatang menjelang 2014, sungguh saya masih berpengharapan agar para pemimpin negeri ini juga masih sempat berjuang memperbaiki ‘kekalahan-kekalahan’ kita dalam dunia perdagangan global tersebut diatas.
Tetapi pada saat yang bersamaan kita sebagai rakyat juga tidak bisa hanya berpangku tangan dan mengharapkan hasil karya para pemimpin kita saja. Kita sebagai rakyat juga harus berjuang habis-habisan untuk bisa mengubah ‘kekalahan-kekalahan’ tersebut menjadi kemenangan-kemenangan di masa-masa mendatang. Kongkritnya dengan apa kita bisa menang melawan kekuatan-kekuatan global yang begitu perkasanya mencengkeram hampir keseluruhan kebutuhan kita ini ?.
Dengan mulai membangun karakter para pemenang pada masing-masing diri kita sendiri seperti yang pernah saya tulis dalam tulisan “WIN…” , Lebih dari itu kita juga harus yakin bahwa kemenangan hanya akan kita peroleh bila Allah menolong kita, sedangkan Allah hanya akan menolong kita bila kita menolong (Agama)-Nya. Maka sekecil apapun yang kita bisa lakukan- lakukanlah !, siapa tahu perbuatan kita yang tidak seberapa tersebut bisa memancing pertolonganNya.
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS 47:7). “Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? ….” (QS 3 : 160).
Bila kita bekerja dengan mengikuti hukum sebab-akibat untuk meraih kemenangan yang dinjanjikan Allah ini – bila kita termasuk orang-orang yang beriman – insyaAllah kita-pun bisa menang. Dengan hukum sebab-akibat untuk memperoleh kemenangan di segala bidang yang telah begitu nyata ditunjukkan sendiri olehNya tersebut diatas, mengapa kita tidak mulai mencoba menempuhnya untuk menjadikan negeri ini negerinya para (calon) pemenang ?. InsyaAllah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s